Jumat, 31 Juli 2020

Musuh Jantung Adalah Air Es

TAHUKAH ANDA BAHWA Jantung
kita ini paling pantangan nya apa ?​​ Anda mungkin blm tahu.
Setelah membaca tulisan ini mungkin akan kaget !

1. Jantung paling
pantangannya adalah : ​
●Semua makanan dan minuman yg bersifat dingin.
●Jangan minum air ES
●Jangan makan makanan dingin yg keluar dari kulkas. Lebih baik makan makanan yang hangat/panas.(Ini kalau kita ingin sehat!)

2. Apa musuh utama jantung kita​ ?
●Adakah kebiasaan saat makan nasi atau setelah makan nasi lalu minum air dingin/es.
●Apalagi sambil mengelap keringat saat melahap makanan.
●Saat udara panas sambil minum2an yang dingin, benar-benar sangat enak rasanya.

3. Jika punya kebiasaan seperti itu silakan lihat penjelasan di bawah ini :
●Penakluk utama jantung adalah sehabis makan, *TIDAK BOLEH* minum - minuman dan makanan yang dingin (ES), dan ini adalah petunjuk dar dokter ahli jantung diberbagai belahan dunia.

​ Penjelasannya :​ Minum segelas air dingin/es setelah makan memang sangat nyaman, namun air dingin/es bisa membeku (menggumpal)kan minyak/lemak makanan yang barusan ditelan dalam perut, bahkan bisa menyebabkan pencernaan dalam lambung menjadi lamban. Begitu gumpalan (pembekuan) makanan yang mirip lumpur itu bertemu asam lambung, maka akan terurai dgn cepat dan diserap oleh usus dan dia akan menempel di dinding usus. Berselang tidak lama kemudian akan berubah menjadi lemak, yang jika setiap harinya terus menerus seperti ini, maka lama kelamaan akan dapat menyebabkanpenyakit, bahkan penyebab tumor/ kanker. Makanya setelah makan sebaiknya minum air hangat saja.

4. Mohon perhatika gejala-gejala seranga jantung :
●Tidak semua gejal serangan jantung itu akan sakit di lengan kiri, tp kita harus waspada jika terjadi sakit di tengkuk.
●Saat serangan jantung terjadi, tidak pasti akan sakit di ulu hati, tetapi pada umumnya merasa mual, dan keringat dingin bercucuran itulah gejala umum terjadi serangan jantung.
●data statistik 60% serangan jantung terjadi saat sedang tidur, sehingga penderita saat tidur tidak bangun-bangun lagi.

Saat mau tidur usahakan minum satu gelas air hangat, ini utk mencegah serangan jantung saat tertidur atau bangun pagi.

Saat bangun tidur biasanya tensi tertinggi so jangan langsung bangun, tunggu 5 menit atau gerakan anggota tubuh secara ringan, agar darah mengalir lebih baik.

Biasakan setelah bangun minum 2 gelas air hangat saat perut kosong.

□Sakit di bagian tengkuk sering menyebabkan terbangun dari tidur nyenyak. Makanya
harus hati-hati

□Semakin banyak kita ketahui ini, maka kesempatan hidup lebih baik , lebih sehat dan panjang umur akan semakin besar.

Salah Seorang dokter ahli jantung menghimbau, jika setia orang yg telahmembaca berita ini, diharapkan dapat mengirim ke teman-teman, sanak saudaranya.

Semoga penjelasan singkat ini dapat menolong kita dari bahaya serangan jantung.

*Sehat itu mahal, sayangilah jantung kita*

Pentingnya Olah Raga Bagi Kesehatan

by Dr. dr. Dyana Sarvasti, SpJP(K), FIHA, FAsCC

Jangan takut berolahraga, karena olahraga itu terbukti baik untuk kesehatan tubuh...

Manfaat olahraga:
- Memperpanjang umur
- Menurunkan risiko timbulnya penyakit kanker
- Mencegah kepikunan
- Anti-depresi
- Mengontrol tekanan darah
- Memperbaiki lemak darah
- Meningkatkan sensitivitas insulin

Dan lain-lain manfaat baik yang sudah terbukti, bahkan dapat menurunkan kematian akibat penyakit jantung sebesar 12-20% !

(Coba amati gambar 1, tentang manfaat olahraga terlampir)

Lha....itu kok banyak kasus orang rajin olahraga atau habis olahraga malah meninggal....☹

Begini....
Memulai olahraga, terutama olahraga berintensitas tinggi, memerlukan evaluasi kesehatan terlebih dulu...

Evaluasi, apakah yang bersangkutan memiliki faktor risiko bawaan yang dapat membahayakan jantung saat berolah raga....
Contoh: hipertensi, diabetes, kolesterol LDL yang tinggi, merokok, riwayat keluarga sakit jantung di usia muda atau meninggal mendadak......

Apabila ada faktor risiko tersebut, maka perlu cek kesehatan lanjutan, seperti:
- Perekaman elektrokardiografi saat kondisi istirahat
- Perekaman elektrokardiografi saat jantung diberi beban kerja (tes treadmill, tes ekokardiografi, dll)
- Bila dianggap perlu, maka dilakukan CT scan jantung atau sampai dengan kateterisasi jantung

Apabila dari cek kesehatan tersebut, hasilnya baik atau normal, maka silakan berolahraga sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh....

Ingat, setiap individu, memiliki kondisi yang berbeda-beda, sehingga jenis olahraga yang dipilih dan dianjurkan bisa saja tidak sama antara satu individu dengan individu yang lainnya.....

Olahraga itu seharusnya CUSTOMIZED.....!

Olahraga yang berlebihan atau over training dapat berbahaya untuk tubuh kita....

Coba lihat gambar 2 terlampir, tentang dugaan mekanisme yang dapat terjadi bila olahraga dilakukan berlebihan.

Olahraga yang berlebihan yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh, dapat menimbulkan.....
- Peningkatan stres oksidatif yang malah menimbulkan atherosklerosis (timbulnya plak koroner)
- Perubahan sistem kelistrikan jantung sehingga timbul gangguan irama jantung (aritmia)
- Perubahan otot jantung

Yang semua itu pada akhirnya sangat MEMBAHAYAKAN JANTUNG....

Jantung yang sudah tidak mampu mengkompensasi kondisi tersebut akan berhenti bekerja, dan timbulah suatu keadaan yang disebut KEMATIAN JANTUNG MENDADAK atau SUDDEN CARDIAC DEATH.....

Lalu.....
Kalau belum sempat check up, sebaiknya saya olahraga apa?

Perhatikan komponen olahraga: FREKUENSI, INTENSITAS, DURASI, dan TIPE olahraga, atau disingkat dengan FITT (frequency, intensity, time, type).

Olahraga yang dianjurkan untuk menjaga kebugaran adalah setidaknya 3 kali seminggu, waktunya @30 menit, berintensitas sedang, dan olahraga aerobik, yang banyak menghirup oksigen (jalan, sepeda, joging, berenang, dancing, mendayung dan semacamnya).

Tentu saja, komponen FITT akan berubah, jika tujuan olahraga juga berubah...
Misalnya, olahraga untuk menurunkan berat badan, bisa saja durasi dan intensitasnya juga berbeda....

Apakah boleh melakukan olahraga tiap hari?

Nah....yang ini perlu adaptasi....

Jangan olahraga heboh, bila sebelumnya jarang atau tak pernah berolahraga...
Karena tubuh harus diberi waktu untuk beradaptasi pada kondisi dengan beban tertentu....

Sebaiknya dalam situasi dekondisi (setelah sakit, jarang/tidak pernah berolahraga) lakukan olahraga dengan FITT yang bertahap, rendah/sebentar dulu baru setelah itu ditingkatkan perlahan, yang disebut dengan PROGRESI....

START LOW, GO SLOW.....

Apalagi kalau sudah berumur 35 tahun ke atas untuk laki-laki dan 40 tahun ke atas untuk perempuan.....
Ngga cuma jantung yang perlu diwaspadai, tapi juga otot dan persendian.....ati-ati bisa mbrodolisasi....😆

Kalau setelah melakukan olahraga, lalu besoknya badan jadi pegel linu dan njarem semua, itu artinya olahraga yang dilakukan sudah BERLEBIHAN....😝
Karena banyak asam laktat yang tertimbun di otot, akibat metabolisme aerobik telah berubah menjadi anaerobik....

Batasannya apa?

Kalau mau "aman" lakukan olahraga berintensitas SEDANG (MODERATE)...

Idealnya sih, setiap orang "berumur" yang akan olahraga harus cek kesehatan dulu, tapi seandainya ngga sempat, maka.....untuk menentukan olahraga itu masih dalam range SEDANG, adalah memakai indikator:

1. Keluhan
Bila sudah terengah-engah, diajak bicara jawabnya sudah ngos-ngosan, dan keringat bercucuran, maka artinya olahraga anda mungkin sudah berlebihan...

2. Denyut nadi
Hitung denyut nadi istirahat sebelum latihan lalu tambahkan 20-30 ×/menit setelah olahraga selesai.

Misalnya: denyut nadi istirahat 60 x/menit, kemudian setelah olahraga ternyata denyutnya menjadi 120 x/menit (penambahan 60 ×/menit), maka olahraganya sudah berlebihan, tidak intensitas sedang lagi.
Tentu saja bila mengonsumsi obat-obat tertentu perubahan denyut nadi pasca olahraga bisa saja tak sesuai teori lagi...

Begitu kira-kira cara yang paling mudah dipraktekkan....

Ada beberapa metode lain yang lebih detail, tapi itu sudah masuk dalam ranah klinis dan perlu pengawasan....

Jadi, bagaimana?
Moga-moga semua tetap rajin dan rutin berolahraga ya....

Karena EXERCISE IS MEDICINE....
Olahraga itu sebenarnya adalah obat....

Semoga bermanfaat.....

Referensi:
European Heart Journal, Volume 36, Issue 23, 2015, pages 1445-1453

Adapted